-->

Maulid di Tengah Pandemi

Laporan: LIPUTAN 23
Oleh: Kasmaya

Mahasiswa Ushuludin dan Filsafat Uin Ar-Raniry Banda Aceh, Jurusan Sosiologi Agama
Masyarakat Nagan Raya atau yang biasa disebut kota“Rameune” sangat terkenal dengan budaya serta adat-istiadatnya. Masyarakat yang sangat kental dengan tradisi  dan ritual-ritual keagamaan, begitu pula dalam tradisi unik menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bagi masyarakat Nagan Raya tradisi ini sudah tidak meherankan lagi, sebab  setiap memasuki bulan Rabiul Awal, sudah mulai terlihat kemeriahan kemeriahannya. Bagi masyarakat Nagan Raya Perayaan Maulid sama saja dengan perayaan hari hari besar lainnya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Memaknai Maulid demikian menurut mereka sebagai bentuk rasa syukur kegembiraan dan juga penghormatan atas kelahiran ‘Pang Ulee Alam’ Nabi ‘geutanyoe’ Nabi terakhir yang di utuskan Allah SWT dalam membawa ajaran Islam dengan demikian khanduri ini sering disebut khanduri Pang Ulee dalam masyarakat Nagan Raya.

Pelaksanaan maulid atau yang biasa di sebut Moulod di Nagan Raya memiliki keunikan tata cara tersendiri, seperti yang sering dibicarakan dengan kata kata rameune Nagan, yang memiliki makna tersendiri. Arti makna tersebut menurut masyarakat Nagan Raya memberikan nilai positif dan menjadi suatu kebanggan atas adat yang mereka miliki dan dapat menjadikan mereka pedoman dalam pelaksaan adat istiadat. Namun sekilas dilihat dari pandangan diinterprestasikan  person daerah lain, makna tersebut kebanyakan dinilai adanya unsur-unsur negatif apalagi kalau personnya bukan dari daerah Aceh.

Waktu yang Lama
Dapat dikatakan bahwa perayaan Maulid di Aceh merupakan perayaan khanduri dengan waktu berkisar lama. Pada masyarakat Nagan raya sendiri memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW berangsur angsur cukup lama yaitu selama tiga bulan berturut turut. Khanduri Maulid yang pelaksanan di awal dinamakan (Moulod Tuha) yang dimulai sejak dari tanggal 12 Rabiul Awal sampai berakhir bulan Rabiul Awal. Sedangkan khanduri Moulod yang pelaksaan bulan Rabiul akhir sampai berakhirnya bulan Rabiul Akhir disebut (Moulod Teungoh) yang dimulai dari awal bulan Rabiul Akhir sampai berakhirnya bulan Rabiul akhir tersebut. Selanjutnya, khanduri Maulid pada bulan Jumadil Awal disebut (Moulod Tulot) Maulid akhir atau penghabisan waktu perayaan Maulid yang dilaksanakan sepanjang bulan Jumadil Awal.

Hal itu dilakukan agar memudahkan masyarakat Aceh dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, baik itu kelas bawah kelas menengah dan kelas atas. Memperhatikan perwujudan waktu tersebut  dalam  memperinggati Maulid Nabi  Muhammad SAW bagi masyarakat Nagan Raya memberikan peluang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan  kebutuhan dan waktu penggumpulan untuk pelaksanaan  Maulid terutama  dalam bidang finansial. Karena bagi masyarakat Aceh Nagan Raya sendiri kalau tidak melakukan Maulid seperti ada sesuatu yang kurang.

Idang Berlapis
Ciri kas yang dimiliki oleh masyarakat Nagan Raya dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah perayaan yang dilaksanakan secara besar besaran daripada masyarakat daerah lain yang ada di Indonesia. Di setiap kampung yang ada di daerah Nagan Raya pasti melakukan perayaan Maulid, dan penyembelihan hewan ternak pun banyak dilakukan  seperti kerbau, sapi dan unggas dengan skala besar seperti waktu penyembutan hari raya kurban di setiap daearah atau kampung. Dan tak sedikit dari setiap kampung menimal ada dua atau tiga sapi atau kerbau yang disembelih tergantung besar kecilnya perayaan.

Pada waktu tersepakati Moulod atau pada hari pelaksanaan Maulid, masyarakat dengan iklas berbondong bondong membawa makanan siap saji kemeunasah  atau ke mesjid dimana dipusatkan kegiatan khanduri maulid yang ada di kampung tersebut untuk dinikmati bersama. Orang orang yang datang tidak hanya dari kampung tersebut juga orang orang kampung tetangga yang di udang dan paling utama udanggan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin dan santunan untuk mereka berupa bingkisan atau sejumlah uang.

Menariknya lagi, didalam Idang berlapis (meulapeh) terdapat berbagai makanan khas Aceh yang disusun dengan rapi dan juga ada yang menarik  namanya yaitu ‘bu kulah’  berupa nasi  yang di bungkus  dengan daun pisang yang telah dilayu dengan bara api berbentuk seperti piramida di dalam idang. Dan tak lupa ketinggalan setiap perayaan maulid yang selalu ada dan dinantikan yakni bulukat, nasi ketan yang diberi kelapa dan bentuk nya pun unik unik tergantung setiap orang kampung membuatnya.

Idang pun memiliki  beraneka ragam macam ukuran  ada yang terbuat dari besi dan juga dari rotan, dari tingkat 4 sampai tingkat 9 tergantung orang yang mampu menyedahkan makanan tersebut. Ada juga masyarakat yang membuat idang berlapis 9 bergabung dengan tertangganya. Karena perlu diketahui, tradisi perayaan Maulid di Nagan Raya dengan Khanduri besar bagi masyarakat yang mampu melakukan khanduri.

Meudike
Sebelum masyarakat menyantap hidangan Maulid dan membawa pulang nasi Maulid, masyarakat mengadakan dzikir atau biasa disana disebut dengan ‘Meudike’. Meudike adalah melanturkan shalawat dan dzikir memuji Allah SWT dan Rasullah SAW. Karena selain tradisi perayaan Maulid di Nagan Raya  berbentuk khanduri juga dimeriahkan dengan  tradisi ‘meudike’ yang dilakukan oleh masyarakat yang hadir ke meunasah atau mesjid tersebut. Dalam meudike juga terdapat syair-syair bahasa Aceh yang mengadung nilai Syiar Islam dan mendoakan kesejahteraan dan kedudukan tertinggi untuk Rasulullah SAW, keluarga beserta sahabat Nabi serta untuk seluruh umat Islam.

Formasi bentuk meudike daerah Nagan Raya pun sangat unik dari masa ke-masa  mengikuti perubahan zaman.  
Meudike di perayaan Maulid Nagan Raya sudah dilakukan  sejak awal sebelum memasuki bulan Maulid atau yang biasa disebut dengan latihan, sejak malam besoknya khanduri Maulid, biasanya kalau malam hanya masyarakat kampung tersebut yang melakukan dzikir (meudike) sedangkan besoknya di hari perayaan Maulid siang sampai sore bersama para undangan maulid dari kampung kampung tetangga. Dan pada malam hari di lanjutkan lagi dengan dakwah tentang maulid Nabi Muhammad Saw untuk mengulas sejarah perjuangan Rasullah SAW dalam menegakkan kalimat “Laa Ilaaha Ilallah” biasanya masyarakat kampung mengandeng penceramah penceramah kondang Aceh sebagai penutupnya.

Dalam tradisi Maulid juga ada namanya tradisi woe gampong, jadi sanak keluraga pulang kampung untuk perayaan Maulid sebari berkumpul bersama keluarga selain dapat merajut Ukhwah Islamiah antara keluarga juga bisa menjadi salah satu sarana untuk merajut Ukhuwah Islamiah antara satu kampung dengan kampung lainnya.
Ditengah pandemi  seperti sekarang ini masyarakat Nagan Raya tetap menjalankan Maulid sebagai mana mestinya dilakukan seperti tahun tahun lalu, namun lebih sedikit berbeda karena harus menerapkan  protokol kesehatan yang ada seperti menjaga jarak mencuci tangan dan memakai masker,  ini dilakukan mengingat keadaan masih dalam masa wabah covid-19 tetap waspada walaupun daerah daerah banyak yang zona hijau di Nagan Raya.

Berkomitmen menjaga sesama juga keharusan dalam ajaran Islam  untuk menlindungi diri dan orang sekitar dari penyakit menular covid-19 ini. Protokol kesehatan yang di terapkan dan lakukan di perayaan Maulid di masa sekarang sama  sekali tidak mengurangi hikmah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Share:
Komentar

Berita Terkini