MENGKRITIK DENGAN ELEGAN

Laporan: LIPUTAN 23
(Gambar: ilustrasi)

Oleh: Silmi Khaira

Kritikan merupakan sebuah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu yang mempunyai tujuan untuk memperluas wawasan dan pemahaman. Tidak ada yang suka di kritik, namun untuk tumbuh dewasa bukankah kita harus melewati segala hal yang tidak kita sukai? Suatu kritikan bisa membangun seseorang namun juga bisa menjadi tamparan yang menyadarkan.

Kritikan sangat sering di identikkan dengan ucapan pedas yang mampu menjatuhkan mental, semangat, rasa percaya diri sehingga menyalakan api dendam karena di sampaikan dengan cara yang salah. Kita semua mungkin sadar bahwasannya manusia memang menjadi tempatnya salah dan lupa, sesama manusia lain sudah menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan terutama dalam hal kebaikan. 

Namun, hal biasanya yang luput dari perhatian kita adalah cara yang di pakai untuk mengingatkan atau mengkritik orang lain yang sering kali menyinggung perasaan. Arus globalisasi yang semakin maju dan media sosial yang serba bebas membuat orang banyak lupa adab mengkritik orang lain sehingga banyak ucapan yang seharusnya tidak pantas untuk di ungkapkan.

Di dalam islam, mengkritik termasuk ajaran amar makruf nahi mungkar, memberi masukan berupa kritik adalah hal yang wajar untuk saling menasehati bahkan bisa menjadi amal dan mendatangkan pahala besar. Oleh karena itu, hendaknya saling menasehati sesama dengan menggunakan bahasa yang lembut dan cara yang baik agar semua kritikan dapat di terima.

Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mengkritik orang lain diantaranya adalah kita harus mampu memposisikan diri sebagai orang lain dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, fokus pada akurasi bukan memperbanyak asumsi, gunakan alasan yang logis, temukan hal baik pada dirinya untuk di puji agar mudah dalam menerimanya serta membuatnya menjadi lebih baik, ajak bertukar fikiran untuk menemukan solusi. 

Saat menyampaikan kritikan jangan buat seseorang merasa di permalukan, maknanya kita tidak boleh mengkritik di depan khalayak ramai sehingga lebih terkesan menjatuhkan walaupun awalnya kita mempunyai niat yang baik namun karena cara yang salah akhirnya menimbulkan konflik.

Mengkritik dan menegur itu haruslah di bangun dengan rahmat dan kasih sayang bukan atas kebencian apalagi niat untuk saling membuka aib, kritikan bisa di pandang secara positif karena merupakan kejujuran dari pemberi kritik dan dapat memicu kita untuk berbuat lebih baik. Namun adakalanya kita mendapatkan kritikan yang menyakitkan sehingga membuat down seharian.

Ketika menerima kritikan bisa menjadi hal yang paling menantang dan untuk merespon kritikan dengan tepat hal yang harus di lakukan yaitu, mengingat bahwasannya kritikan itu bukan serangan, saat menerima kritikan pedas, kita harus mampu  untuk menyingkirkan emosi negatif yang mampu merusak keadaan dan mungkin bisa membuat penyesalan di kemudian hari. Baper ketika di kritik? Saat mendapatkan kritikan, bukan berarti kita gagal dan benci, namun sedang mendapat perhatian dan perbaikan, sebab tanpa adanya kritikan bisa jadi kita sedang dia abaikan. 

Perlu di ketahui bahwasannya kritikan adalah guru yang akan terus menyempurnakan sebuah proses yang kita lalui. Ibnul wazir rahimahullah mengatakan “Orang yang ikhlas yaitu menyambut nasehat dengan senang dan tidak takut kritikan”. Bahkan sikap keras yang di landasi kebenaran serta nasehat lebih baik di bandingkan dengan sikap basi-basi demi mempertahankan ucapan yang buruk. 

Saat kita menerima kritikan kita harus mampu menemukan hal positif di balik ucapan pedas yang di sampaikan, berterimakasih kepada si pengkritik meskipun ucapan tersebut di sampaikan dengan kasar, mengambil pelajaran dari sebuah kritikan dan buktikan bahwasannya kalau kita terus mencoba memperbaiki diri. 

Akan terjadi dua hal ketika kita mampu merespon kritikan dengan baik, pertama orang lain akan mengagumi dan berfikir lebih baik tentang kita, yang kedua kita akan merasakan lebih baik tentang diri sendiri, karena membalas kritik dengan serangan pribadi hanya akan mengotori diri.

Mengkritik adalah hal yang paling gampang di lakukan, juga paling gampang bikin sakit hati serta menjatuhkan harga diri. Ketika seseorang mengkritiknya hati pun bisa saja terluka apalagi jika ada seseorang yang mempermalukan di depan umum pasti dia bakal sakit hati akut dan seseorang yang terkena kritikan dia bakal ngotot mempertahankan pendapatnya  meskipun dia tau kalau pendapatnya salah dan dia pasti akan balas dendam sekaligus mencari kesalahan si pengkritik. 

Jika memang tidak setuju dengan pendapat seseorang sebaiknya di dengarkan terlebih dahulu, kalau ada hal yang ingin di sampaikan jangan di ungkapkan di depan umum. Imam syafi’i pernah berkata “barangsiapa menasehati saudaranya dengan terang-terangan, berarti ia telah mempermalukan dan memperburukannya”. Dan yang menjadi penyakit umat pada saat ini biasanya mengkritik tapi tidak mau di kritik. Terdapat beberapa seni dalam mengkritik diantaranya adalah mengkritik dengan teknik burger, burger terdiri dari roti, isi ( daging, sayur, dll) dan roti lagi. 

Nah ketika ingin mengkritik bisa di gunakan perumpamaan burger dan pertama beri ‘roti’ yang berupa pujian atau apresiasi, selanjutnya baru ‘isi’ yaitu kritik yang ingin di sampaikan, tentu dengan kritik yang membangun dan tidak menjatuhkan dan barulah akhiri dengan ‘roti’ pujian, yang berupa apresiasi atau bahkan bisa do’a maupun harapan.

Kritikan juga merupakan suatu pengamatan yang telah di teliti sebagai pertimbangan yang adil terhadap baik buruknya terhadap sebuah karya, pendapat dan sebagainya. Menilai atau mengkritik orang lain itu sangat mudah, yang sulit adalah berkaca dan mengkoreksi diri sendiri banyak orang yang pandai mengkritik tapi tidak memberi jalan keluar dan ada orang yang memberi jalan keluar tanpa mengkritik. 

Secara elegan namun tetap tajam, itulah sebuah kritikan dan solusi bisa di dengungkan melalui media dengan cara membuat sebuah karya tulis yang berisi sebuah kritikan untuk tujuan membangun, selain itu kritikan juga dapat di sampaikan secara lisan tanpa mencari-cari kesalahan dan berniat untuk mempermalukan sangat di sayangkan orang yang hoby mengkritik, karena dia bisa melihat keluar tapi buta melihat diri sendiri ingatlah mengkritik bukan membuka aib.

Aib terbesar adalah ketika kita mampu memberikan komentar pada orang lain, mengumbar kesalahan orang lain dan ternyata kita memiliki aib yang sama nauzubillah. Dan taukah kamu? Rasulullah, Umar bin Khatab juga pernah di kritik dan beliau tidak menganggap kritik sebagai membuka aib. Jangan pernah biarkan lidah kita berserikat dengan mata saat mengkritik orang lain, jangan lupa bahwasanya mereka juga seperti kita yang memiliki mata dan telinga mencari salah dan aib orang lain hanya untuk kepuasan diri sendiri adalah pertanda hati yang rusak. 

Setiap orang memerlukan dorongan pujian, serta motivasi untuk tumbuh, juga berkembang menjadi lebih baik, ingat kita semua bisa mengkritik tanpa harus mencela.

Share:
Komentar

Berita Terkini