-->

Budidaya Ternak Kelinci Dapat Meningkatkan Perekonomian Keluarga Desa Asam Peutik

Laporan: LIPUTAN 23
OLEH ZAHRA MAULIDA LY, Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis dan Islam IAIN LANGSA.

ASAM Peutik adalah salah satu desa atau yang sering disebut gampong yang terletak di kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa. Desa ini sudah ada pada zaman belanda sebelum tahun 1928, menurut cerita orang tua dahulu pada zaman penjajahan Belanda. Ternyata yang membuka hutan ini untuk mengambil kayunya adalah seorang warga China yang bernama “Panjang Yuu”. Setelah kayu di daerah tersebut habis, maka daerah tersebut ditinggalkan begitu saja dan kayunya dibawa keluar daerah.

Kemudian pada tahun 1928, masuklah orang suku Jawa dari Serafoh yang bernama “Siren” dan suku Aceh Ampon yang berasal dari Langsa dan sekitarnya yang bertujuan untuk membuka lahan agar bisa ditanami sayur-sayuran, ubi kayu dan juga padi sawah. Desa ini diberi nama dengan sebutan “Asam Peutik” dikarenakan pada saat pembukaan hutan kedua ada seorang suku Aceh dan suku Jawa yang sedang duduk di bawah pohon asam, dan di sebelah pohon asam iu terdapat pohon papaya. Maka kesepakatan mereka tersebutlah memberi nama Asam Peutik yang artinya Asam Pepaya.


Di desa ini mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani atau pun peternak tak jarang juga di desa ini bekerja sebagai pengrajin pembuat parang dan juga yang terkenal adalah kulinernya yang menjual segala macam bakso yang sudah terkenal luas hingga sampai ke Sumatra. Dibalik jayanya desa ini ternyata terdapat peternak yang sangat unik. Yaitu peternakan kelinci yang dibudidayakan oleh keluarga pak Kasem dan bu Jumaiti mereka memilih beternak kelinci ini berawal dari pelihara saja kemudian mengembangbiakkan sendiri hingga perekonomian mereka bergantung pada kelinci ini.

Peluang dari ternak kelinci ini pun cukup menjanjikan karena kelinci termasuk hewan yang gampang dijinakkan, mudah beradaptasi dan cepat berkembang biak, bahkan kelinci di sini pun memberi pakannya tidak lah susah. Jika perekonomian keluarga ini sedang sedikit naik pakannya pun akan dikasih buah-buahan kalaupun perekonomian keluarga ini menurun pun kelinci ini bisa makan dedaunan apasaja termasuk daun pohon sawit yang banyak mereka temui di sekitar rumah mereka. Peluang akan keuntungannya pun menjamin, karena modal yang dikeluarkan sangatlah minim dan yang paling penting ialah menguntungkan.


Secara umum kelinci di kelompokkan menjadi 2 jenis, yakni kelinci bududaya dan kelinci hias. Kelinci budidaya adalah kelinci yang dibudidayakan untuk dikonsumsi dagingnya ataupun kulit dan bulunya. Sedangkan kelinci hias adalah kelinci untuk hewan kesayangan. Perbedaan antara kelinci hias dan kelinci budidaya pun tidak pasti. Banyaknya ras kelinci hias yang bisa dimanfaatkan menjadi kelinci pedaging.

Karena ras tersebut memiliki keunggulan pedaging seperti bobot yang besar, pertumbuhan bobok cepat dan perkembangbiakkannya pun tinggi. Begitupula sebaliknya. Kelinci yang pada mulanya diperuntukkan untuk kelinci pedaging, karena bentuknya indah, kemudian dikembangkan menjadi kelinci hias.

Ada 3 fokus utama dalam beternak kelinci, yaitu: yang berorientasi pada daging, kulit dan bulu. Jenis-jenis pada kelinci pun memiliki keunggulan yang pastinya berbeda-beda, ada yang unggul di pertumbuhan daging, kualitas kulit dan produksi bulu atau woll. Pada pekarangan rumah ibu Jumaiti ini terdapat beberapa jenis kelinci yang ia pelihara dan di perjual belikan. Ada kelinci Rex, ada kelinci Anggora dan bahkan ada kelinci Flemish Giant ibu ini menjual anak kelinci bukan kelinci dewasa.

Kelinci dewasa ini akan menjadi indukkan yang akan menghasilkan bibit bibit baru yang akan di perjual belikan. Patokan harga kelinci ini senilai 90 ribu rupiah sampai 500 ribu rupiah untuk anak kelinci yang berumur 1-3 bulan. Untuk umur 3 bulan lebih, harga patokan dari harga 300 ribu rupiah hingga 4 juta ribu rupiah tergantung bobot dan kualitas si kelinci tersebut.

Jika anda tertarik kelinci-kelinci ini dengan berbagai jenis dan rasnya, anda bisa berkunjung langsung ke gampong Asam Peutik, Langsa Lama, Kota Langsa. (*)
Share:
Komentar

Berita Terkini