
Membuka ruang suara bagi beragam komunitas Aceh untuk berbagi catatan, pengalaman, dan imajinasi tentang kebudayaan
Liputan23 | Banda Aceh – Komunitas Tikar Pandan akan menggelar Dialog Kebudayaan bersama Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Wamen Komdigi RI), pada Jumat, 4 September 2026, di Sekolah Adat Srimusim – Komunitas Tikar Pandan, Lampuuk.
Mengusung tema “Merawat Kebudayaan, Membuka Ruang Suara, dan Membagi Imajinasi”, dialog ini akan mempertemukan beragam unsur yang memiliki perhatian dan pengalaman dalam kehidupan kebudayaan Aceh. Akademisi, lembaga adat, komunitas budaya, seniman, mahasiswa, generasi muda, masyarakat sipil, pelaku teknologi digital, media, hingga masyarakat Lampuuk akan hadir dalam satu ruang percakapan.
Kegiatan ini tidak dirancang sebagai seminar dengan pola paparan dan tanya jawab. Dialog Kebudayaan disiapkan sebagai ruang terbuka untuk saling mendengar, tempat berbagai pengalaman, ingatan, persoalan, gagasan, harapan, dan imajinasi tentang kebudayaan dapat dibawa dan dipertemukan.
Dengan demikian, dialog ini sekaligus membuka Ruang Suara Kebudayaan-ruang bagi berbagai komunitas dan individu untuk menyampaikan apa yang mereka lihat, rasakan, pikirkan, dan bayangkan mengenai kebudayaan Aceh.
Salah satu pintu masuknya adalah Ruang Catatan Kebudayaan.
Sebelum kegiatan berlangsung, peserta menyampaikan catatan melalui formulir daring. Catatan dapat berupa pengalaman, ingatan, persoalan, gagasan, harapan, pengetahuan lokal, praktik kebudayaan, maupun pandangan mengenai masa depan kebudayaan.
Catatan yang masuk akan dikurasi dan diformulasikan secara editorial dengan tetap menjaga substansi, karakter, dan keaslian suara penulis. Catatan terpilih kemudian akan ditampilkan melalui proyektor dan menjadi pemantik percakapan dalam dialog.
Nezar Patria akan hadir bukan semata-mata sebagai narasumber, tetapi sebagai mitra dalam percakapan. Ia akan mendengar berbagai pengalaman dan pandangan peserta sekaligus berbagi perspektif mengenai kebudayaan, perubahan zaman, dan perkembangan teknologi digital.
Percakapan akan menyentuh bagaimana kebudayaan dirawat, didokumentasikan, diwariskan, dikembangkan, dan menemukan ruang ekspresi baru di tengah perkembangan teknologi digital. Termasuk bagaimana generasi muda dapat memiliki ruang untuk mengenal, mengembangkan, dan mengekspresikan kebudayaan melalui berbagai medium baru.
Karena itu, pertanyaan yang dibawa ke dalam dialog tidak hanya tentang bagaimana menjaga kebudayaan yang telah ada, tetapi juga tentang bagaimana kebudayaan Aceh ingin dibayangkan ke depan.